Latest Comments

Home arrow Science arrow Education 


Kilas Balik Guru Indonesia: Guru Indonesia Lucu-lucu
User Rating: / 2
PoorBest 
 
My Teacher Pernah tidak kita memikirkan sejarah guru-guru kita secara umum. Kalo memang belum pernah memikirkannya, ijinkan saya sedikit mengetikkan apa yang ada di kepala saya.

Begini, kalau saya mengamati femonena guru yang ada di negara kita tercinta adalah produk output dari kampus yang notabene adalah ‘kampus kelas menengah ke bawah’ atau IKIP. Begitu kita mendengar IKIP yang mungkin sekarang mungkin agak keren dengan perubahan IKIP menjadi Universitas Negeri, seperti IKIP Malang menjadi Universitas Negeri Malang, IKIP Surabaya menjadi Universitas Negeri Surabaya, dan lain-lain.
Bukti pendukung saya atas opini saya di atas adalah
  • minat remaja untuk memasuki perguruan tinggi ini adalah nomor dua setelah tidak diterima di universitas non kependidikan. Jadi boleh dibilang remaja kualitas nomor dua kan.
  • seringkali remaja masuk universitas pendidikan adalah karena faktor terpaksa, bukan cita-cita murni. Biasanya kan cita-cita itu dokter, apoteker, ekonom, hakim, atau bankir.
  • remaja yang memilih kampus pendidikan, rata-rata berasal dari keluarga yang notabene menengah ke bawah. Boleh dibilang juga kan kalau kemampuan intelektual juga rata-rata. Ada fenomena aneh, sejak kecil pintar, maka masuk SD favorit, SMP favorit, akhirnya Universitas Favorit. SD, SMP, SMA favorit di Indonesia membutuhkan biaya besar yang besar dimungkinkan buat keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi tinggi. Sedangkan kebalikan dari hal itu memaksa mereka yang berada di tengah-tengah untuk mengikuti arus memasuki jalur menengah.
Kondisi realitas di atas sering terjadi, sehingga oleh karena raw material yang masuk menjadi guru umumnya bukan berasal dari bibit-bibit yang istimewa, sehingga dampaknya juga berimplikasi pada hasil akhir proses pembelajaran yang diberikan, akibatnya produk guru menjadi kurang qualified. Hal itu disebabkan karena berbagai masalah harus mereka hadapi saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, misalnya terbatasnya kondisi ekonomi orang tua maupun minimnya kemampuan untuk menyerap ilmu yang diberikan para dosen pada mereka.
Terus masalah yang agak parash adalah guru-guru tersebut (yang kemampuannya rata-rata), tidak mau disebar secara merata di Indonesia. Pengennya guru-guru tersebut ditugaskan di jawa, malas jikalau ditugaskan di daerah terpencil dan terisolir.
Lha.. ya kan? Sekarang bagaimana tanggapan saudara-saudara sekalian. Silahkan dibeber di sini. Semoga bisa menjadi diskusi yang bermanfaat.

Salam

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
  International
News, Politics, Business & Finance, ...

  Technology
Internet, Computers, ...

  Science
Academics, Education, Research, ...

  Lifestyle
Arts & Culture, Health & Medical, Hobbies, ...

  Entertainment
Books, Musics, Movies, ...

  Sports
Sports, ...