Latest Comments

Home arrow Lifestyle arrow Lifestyle arrow Health & Medical 


Demensia
User Rating: / 0
PoorBest 

Pengertian Demensia

    Demensia secara harfiah berarti de(=kehilangan), mensia (=jiwa). Tapi lebih umum diartikan sebagai penurunan intelektual karena menurunnya fungsi bagian luar jaringan otak (cortex). Di samping itu ada pula yang menyebutkan bahwa demensia merupakan suatu penurunan kualitas intelektual yang disertai gangguan pengamatan, hingga menurunnya daya ingat yang sangat mengganggu kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan dalam berkomunikasi dan bahasa, serta dalam pengendalian emosi.
Menurut Lionel Ginsberg, demensia dapat didefinisikan sebagai gangguan fungsi intelektual, biasanya progresif, dan terjadi pada saat kesadaran baik. Lebih tepatnya dapat dikatakan bahwa pasien demensia memiliki gangguan yang berarti pada dua atau lebih area kognisi (salah satunya harus merupakan gangguan memori, dan domain lainnya bisa bahasa, praksis keterampilan visiospasial, kepribadian, prilaku sosial atau pikiran abstrak) tanpa adanya acute confusional state dan atau penyakit psikiatrik, seperti depresi atau skizophrenia, yang dapat menyerupai demensia.
Menurut K.J Harold dan B.J Sadock, demensia adalah satu keadaan hilangnya fungsi kognitif dan intelek yang demikian hebatnya sehingga menghambat fungsi pekerjaan dan sosial. Demensia merupakan sindroma yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Fungsi kognitif yang dapat dipengaruhi adalah intelegensia umum, belajar dan daya ingat, bahasa, kemampuan memecahkan masalah, orientasi, persepsi, perhatian, konsentrasi, pertimbangan, kemampuan sosial, bahkan kepribadian juga terpengaruhi.

Deskripsi Klinis

DSM-IV telah menghilangkan sindroma demensia umum yang ada di dalam DSM-III-R. Diagnosis demensia dalam DSM-IV adalah demensia tipe alzheimer, demensia vaskular, demensia karena kondisi medis umum lain, demensia menetap akibat zat, demensia karena etiologi multipel, dan demensia yang tidak ditentukan. Demensia tipe alzheimer dan demensia vaskular adalah yang terbanyak.
Demensia harus dibedakan dari ketuaan yang normal, delirium dan gangguan depresif. Pada proses ketuaan normal pasien mungkin mengalami kehilangan fungsi kognitif, tetapi keadaan ini tidak progresif dan tidak menyebabkan gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaan. Beberapa pasien dengan gangguan depresif memiliki gejala gangguan kognitif yang sulit dibedakan dari gejala demensia. Gambaran klinis ini seringkali disebut pseudodemensia. Pasien demensia seringkali mengalami delirium atau gangguan depresif yang menumpang (superimposed). Tujuan jangka pendek yang utama dalam mengobati pasien demensia adalah mengidentifikasi dan mengembalikan tiap demensia yang reversibel, menangani kegawatan perilaku, dan mengobati tiap gangguan medis dan bedah lainnya.
Pada tahap-tahap awal, hendaya ingatan biasanya terlihat dalam bentuk ketidakmampuan untuk mencatat kejadian-kejadian yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, seseorang ingat cara berbicara dan mungkin juga mampu mengingat berbagai kejadian yang terjadi bertahun-tahun silam, tapi mengalami kesulitan mengingat berbagai sesuatu yang terjadi beberapa jam yang lalu. Agnosia, ketidakmampuan untuk mengenali dan menyebutkan nama berbagai objek, adalah gejala yang paling banyak ditemukan. Facial agnosia, ketidakmampuan mengenali wajah-wajah orang bahkan yang sudah sangat dikenal sekalipun, seperti keluarga dan teman, bisa membuat anggota keluarga merasa sangat tertekan. Simtom yang lain adalah berubahnya kepribadian pada penderita demensia yang menjadi lebih kompulsif, suka membantah, tidak kooperatif, paranoid, dan cenderung pendiam atau menarik diri dari orang lain (Cockerham, 2003). Yang lain bahkan bisa kehilangan kemampuan menahan nafsu, kehilangan kontrol impuls seksual, jika mereka merasa tidak sama dengan orang dewasa lain, mereka akan menganiaya anak kecil (Rosen, dkk, 1972).
Pasien dengan diagnosis demensia yang telah diketahui seringkali dibawa karena perubahan yang tiba-tiba pada perilakunya, hal ini akibat frustrasi dan kehilangan semangat yang tak terhindarkan, menyertai kehilangan fungsi dan perasaan terasing karena “kehilangan” orang-orang tercinta. Fungsi kognitif terus mundur sampai orang itu membutuhkan dukungan yang nyaris total untuk menjalankan aktivitas seharí-harinya. Akhirnya, kematian akan terjadi akibat inaktivitas ditambah onset penyakit-penyakit lain, seperti pneumonia.


Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
  International
News, Politics, Business & Finance, ...

  Technology
Internet, Computers, ...

  Science
Academics, Education, Research, ...

  Lifestyle
Arts & Culture, Health & Medical, Hobbies, ...

  Entertainment
Books, Musics, Movies, ...

  Sports
Sports, ...